Sedihnya Jika Bangsaku Bermoral Plagiat
"Hari ini saya betul-betul kecewa karena secara tidak sengaja saat saya browsing saya menemukan satu tulisan di sebuah blog yang sudah tidak asing lagi bagi saya karena memang tulisan itu saya yang membuat. Yang lebih kecewa lagi ketika saya browse lebih dalam ternyata hampir semua tulisan saya di blog ini ada disana tanpa satu pun yang mencantumkan link url blog saya sebagai referensinya."
Tulisan di atas merupakan tumpahan kekesalan sobat dunia nyata saya, Er13s (Digital Life), yang tulisan-tulisannya di copas (copy-paste) orang. Wajar saja jika dia merasa kecewa (jangan-jangan sekarang hiatus karena itu ya?) karena jika kita mengalami hal yang sama pasti kitapun akan merasa kesal, kecewa, benci dll.
Pengalaman seperti itupun terjadi pada diri saya sendiri. Ada beberapa tulisan SC Community yang secara "tanpa permisi" dicopas oleh beberapa blog yang berbeda. Tentu saja sayapun merasa kesal karena dua alasan:
Kadang saya heran, kok masih ada orang seperti itu di tengah kemajuan peradaban manusia? Yang lebih mengherankan ada beberapa sobat yang meminta komentar saya di blognya padahal yang dikomentari adalah tulisan saya sendiri yang ia copas abis. Lantas saya pun bertanya, sudah separah inikah moral bangsa kita? Jika demikian, pantas saja dunia internasional mencap kita sebagai bangsa plagiat, bangsa pembajak, bangsa pelanggar hak cipta, dan sekaligus pelanggar HAM.
Menyedihkan memang. Seharusnya, jika kita ingin disebut sebagai manusia beradab, tidak melakukan hal-hal seperti itu. Bukannya tidak boleh mengutip atau memuat tulisan orang lain tetapi harus dipelihara etika, seperti:
Jangan karena tidak ada aturan di dunia maya ini lantas kita melupakan etika sebagai manusia yang beradab. Bukankah kita pernah atau masih sekolah, dimana diajarkan bagaimana cara kita membuat sebuah tulisan yang tetap menjaga nilai-nilai moral?
Semoga saja dengan tulisan ini kita menjadi sadar, betapa pentingnya penghargaan terhadap orang lain meskipun kita hanya mengambil sebuah rangkaian huruf yang berbentuk kata-kata. Bagaimanapun sebuah tulisan adalah karya dimana seseorang telah membuatnya dengan mengorbankan waktu, pikiran, bahkan mungkin uang. Lantas tegakah kita merampoknya begitu saja?
Tulisan di atas merupakan tumpahan kekesalan sobat dunia nyata saya, Er13s (Digital Life), yang tulisan-tulisannya di copas (copy-paste) orang. Wajar saja jika dia merasa kecewa (jangan-jangan sekarang hiatus karena itu ya?) karena jika kita mengalami hal yang sama pasti kitapun akan merasa kesal, kecewa, benci dll.
Pengalaman seperti itupun terjadi pada diri saya sendiri. Ada beberapa tulisan SC Community yang secara "tanpa permisi" dicopas oleh beberapa blog yang berbeda. Tentu saja sayapun merasa kesal karena dua alasan:
- Tulisan tersebut dicopas abis berikut titik komanya (hanya judulnya saja yang kadang diganti) tanpa permisi, dan
- Tulisan tersebut tidak mencantumkan URL SC Community sebagai sumber referensinya.
Kadang saya heran, kok masih ada orang seperti itu di tengah kemajuan peradaban manusia? Yang lebih mengherankan ada beberapa sobat yang meminta komentar saya di blognya padahal yang dikomentari adalah tulisan saya sendiri yang ia copas abis. Lantas saya pun bertanya, sudah separah inikah moral bangsa kita? Jika demikian, pantas saja dunia internasional mencap kita sebagai bangsa plagiat, bangsa pembajak, bangsa pelanggar hak cipta, dan sekaligus pelanggar HAM.
Menyedihkan memang. Seharusnya, jika kita ingin disebut sebagai manusia beradab, tidak melakukan hal-hal seperti itu. Bukannya tidak boleh mengutip atau memuat tulisan orang lain tetapi harus dipelihara etika, seperti:
- Meminta izin dari penulis aslinya jika kita akan melakukan copas abis terhadap seluruh tulisannya.
- Mencantumkan URL sumber tulisan sebagai bentuk penghargaan kita atas pemikiran mereka, yang tulisannya kita muat.
- Sedikit kreatif dengan tidak melakukan copas secara penuh tapi tetap beretika dengan mencantumkan URL sumber tulisannya.
Jangan karena tidak ada aturan di dunia maya ini lantas kita melupakan etika sebagai manusia yang beradab. Bukankah kita pernah atau masih sekolah, dimana diajarkan bagaimana cara kita membuat sebuah tulisan yang tetap menjaga nilai-nilai moral?
Semoga saja dengan tulisan ini kita menjadi sadar, betapa pentingnya penghargaan terhadap orang lain meskipun kita hanya mengambil sebuah rangkaian huruf yang berbentuk kata-kata. Bagaimanapun sebuah tulisan adalah karya dimana seseorang telah membuatnya dengan mengorbankan waktu, pikiran, bahkan mungkin uang. Lantas tegakah kita merampoknya begitu saja?